My Home
Minggu, 07 April 2013
Jumat, 15 Maret 2013
Fanfic : 2MIN | Gloaming Flower | Chapter 1
Title
: Gloaming Flower
Author
: Frasa Rose
Cast
: tumin
Genre
: Fantasy
Cua-cuap Lucifer : Pertama-tama, saya ingin haturkan
maaf karena terpaksa saya harus nambah daftar hutang *Mesem* Beberapa hari
belakangan, saya jadi bener-bener ketagihan dengan cerita fantasy khususnya
dari novel terjemahan *Mesem lagi*
kedua kalinya, saya haturkan, terima kasih, dan selamat membaca ^^
kedua kalinya, saya haturkan, terima kasih, dan selamat membaca ^^
>>
<<
Bayangkan sebuah tempat, di mana
sungainya mengalir sebening kaca, tidak beriak.. begitu tenang. Tidak bersuara,
seakan bisu. Lalu melintang sebuah jembatan, besar, dan panjang. Yang begitu
tinggi, menjulang ke atas tidak sampai menyentuh langit, dan tertutup kabut.
Angin berhembus, akan tetapi tidak membuatnya goyah. Jembatan itu sangat kokoh.
Dan berwarna emas terbias cahaya mentari, berlatarkan senja.. kelam, sunyi;
setidaknya lampu-lampu yang berjajar di sana tidak membuat jembatan itu
terlihat semakin suram.
Orang-orang berjalan dengan tenang, di
tengah musim panas, bersenda gurau. Atau berhenti sejenak dan melihat ke bawah
aliran air. Sungai itu benar-benar jernih. Seperti kaca, yang pada malam hari
akan menunjukkan bayangan bulan yang pucat. Selalu tenang seperti itu. Dan
tidak ada batu-batu menjulang. Permukaannya rata dengan air, bening, sepertinya
seseorang bisa bercermin di sana.
Jika sore hari, saat jembatan itu
berkilau keemasan, mereka akan datang; sepasang kekasih, sama-sama pria, tetapi
salah satunya begitu cantik. Dan anggun, tentu saja. Lalu pria yang selalu
melukis si pria cantik, ia adalah laki-laki yang tampan. Sangat tampan. Apalagi
bila kedua matanya sudah melihat kepada kekasihnya yang berambut pirang dengan
begitu sayang, ia akan terlihat jauh lebih tampan dari yang bisa kugambarkan.
Kedua matanya teduh; aku selalu mengamati mereka, dan aku menyukai cara kedua
orang itu membagi kasih. Seperti tidak akan pernah habis; tidak akan pernah
surut seperti air laut. Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menemui
mereka, sekedar berbasa-basi; atau bertanya, “Bagaimana mungkin kalian bisa
mencintai dengan seindah itu?”
Angin semilir menerpa wajahku, kulihat
laki-laki tampan itu sedang menyiapkan kanvasnya, sementara si pria cantik
berdiri di dekat pembatas sungai menatap ke arah matahari. Membelakangi si pria
tampan. Dan ia sangat ‘indah’ dengan posisi itu. Sebagian tubuhnya menggelap,
samar-samar, kulitnya secemerlang emas tersapu warna oranye, dan terlihat
rapuh. Ah, laki-laki itu sungguh seperti malaikat. Sangat anggun. Tapi
sayangnya ia tidak memiliki sepasang sayap, karena aku yakin, ia bahkan tidak
memerlukan sayap untuk terbang. Melainkan laki-laki itu, kekasihnya itu, yang
terlihat mengaguminya sesaat sebelum menorehkan warna di atas kanvas, ia lah
dua sayap bagi laki-laki cantik itu. Yang akan membawanya terbang ke tempat
yang jauh lebih indah dibanding Neverland.
“Taemin..”
Bisikan lembut itu mencapai telingaku;
hangat. Suara yang kerap membuatku lupa bahwa aku sedang hidup di Dunia yang
semakin tua, bukan di Surga. Aku tidak membutuhkan waktu lagi untuk mengenali
pemilik suara itu, tentu saja aku sudah hafal. Pemiliknya adalah seorang lelaki
tampan, tidak jauh beda dari kekasih si cantik yang berada di jembatan itu, dan
ia adalah kekasihku. Namun, ia sakit. Sakit yang begitu parah. Sakit yang
kubenci karena semakin membuatnya lemah hari demi hari. Dan sakit yang kerap
membuatku menangis.. dalam diam, dan tanpa air mata.
Aku memutar badanku dan melihatnya;
terbaring di atas tempat tidur dengan kelambu yang pucat. Setiap hari ia akan
seperti itu, sangat lama, mungkin sepanjang sisa hidupnya ia akan tetap seperti
itu. Aku tersenyum dan mendekatinya. Wajahnya sama pucatnya dengan bocah gadis
yang meninggal tahun lalu karena terkurung di dalam rumahnya di puncak musim
dingin, tanpa selimut. Tanpa api di perapian rumahnya. Sendirian, dan ditemukan
mati oleh orang tuanya dalam keadaan beku seperti es. Meraih kedua tangannya
yang dingin, padahal ini adalah musim panas, setidaknya ia tidak menggigil.
Atau merasakan sakit itu lagi di dadanya dan membuatnya muntah darah.
Kukecup keningnya, “Apa kau ingin tidur?
Biar aku temani..”
“Tidak,” kedua matanya memandangiku.
Lembut, seperti kembali ke 2 tahun yang lalu, saat kedua mata itu terlihat
tegar dan kuat; tidak sayu. Tidak lelah. Dan tidak akan pernah membuatku
menangis.
Aku menggigit bibir bawahku. “Lalu?”
tanyaku.
“Kau ingat lukisan Gloaming Flower yang kuberikan padamu di ulang tahunmu saat kau
berumur 9 tahun?” tangannya yang lemah menggapai wajahku. Memegang ke dua
pipiku.
Aku menungguk. Tentu saja, lukisan itu
kupajang di kamarku dan akan menjadi barang berhargaku selamanya.
“Aku memang sengaja melukisnya untukmu..”
ia melanjutnya. Monoton, tidak ada kekuatan lagi baginya untuk bicara, pasti
sangat sulit. Aku menelan ludah.
“Aku tahu, ada tulisan namaku di sana..
kau bilang, kau menyukaiku.” Kataku.
Ia tersenyum. “Kau melihatnya?”
“Awalnya kupikir itu riak air sungai
Gloomy, tetapi ternyata tidak.” Aku menyingkirkan kedua tangannya dari pipiku,
lalu membekapnya di dada. “Kau bisa menyembunyikan itu dengan baik, tetapi itu
tidak cukup. Lain kali, kau harus lebih pintar, dan menjadi handal.” Tentu saja... lain kali..
“Kau tahu apa yang kulukis di sana?”
“Gloaming
Flower dan Gloomy River,” jawabku
sekenanya; aku memikirkan lukisan itu kembali. Yang kudapati adalah; jembatan
sungai Gloomy, tampak suram seperti namanya, kastil yang tinggi dan ujungnya
tersembunyi di balik mendung. Pemandangan senja, langit yang mulai menghitam,
sepi. Dan air sungai nampak seperti aslinya, jernih.. memantulkan langit, hanya
saja beriak. Dan di sana, tertulis namaku. Begitu indah, tersirat cinta, dan
aku sangat menyayangi lukisan itu melebihi apa pun. Kota Gloaming-Flow terlihat suram dan mati, tetapi ada satu bunga yang
masih merekah dan berwarna keemasan di celah retak tembok sungai. Tumbuh dengan
daun-daun yang layu, tetapi ia masih terlihat cantik; bunga itu hanya bisa
tumbuh di kota ini, karenanya bunga itu dinamai Gloaming Flower oleh penemu pertamanya.
“Kau bercanda,” ia terkekeh. “Kau tahu
aku tidak menyukai bunga.”
Aku memprotes, “Tentu saja kau bisa, kau
melukis itu untukku, dan aku yakin aku sudah memberitahumu bahwa aku sangat
menyukai bunga. Terutama Gloaming Flower.”
“Bukan.. itu bukan bunga yang disukai
oleh Lee Taemin.” Ia meletakkan kembali tangannya di wajahku, membelaiku
lembut. menyentuh ujung hidungku. “Itu adalah gambar Si Penyuka Gloaming Flower.”
“Itu.. aku?” tanyaku takjub. Bahkan
sejujurnya, ketika memandang lukisannya, aku selalu berandai, atau berharap,
jika aku adalah bunga di dalam lukisan itu; yang bersinar, di sekitar banyak
hal di dunia ini yang mati.
“Benar. Karena kau bungaku.. Gloaming Flowerku yang berharga.”
>>
<<
Ia terlelap di sampingku. Kedua matanya
terpejam rapat, terlihat damai, lalu aku mencium keningnya sebelum merebahkan
kepalaku di sampingnya. Sambil menggenggam tangannya; jemarinya semakin kurus.
Aku ingat pertama kali saat melihatnya, seorang bocah lelaki yang sering
kutemui duduk dengan kanvasnya di jembatan sungai Gloomy. Saat itu aku baru
pulang dari sekolahku, berada di dalam mobil membuatku pengap; aku meminta supirku
untuk menepikan mobil di jembatang Gloomy
river, sedikit memaksanya, lalu akhirnya ia menurut. Aku turun dari
mobilku, dan berjalan mendekati pembatas sungai. Terdengar pekikan melarang
dari supirku, tuan Park yang saat itu masih terlihat muda, aku hanya berbalik
dan memandangnya tajam. Ia diam.
Aku menyentuh pembatas sungai yang
dingin di tanganku. Memejamkan mata, sambil menghirup aroma musim gugur yang
terbawa angin. Kueratkan palto yang kupakai, lalu membuka mata, dan saat itulah
ekor mataku melihatnya. Di sebelah kiriku, jaraknya cukup jauh dari aku
berdiri. Aku menoleh, ia benar-benar di sana. Duduk bersama kanvas dan
pakainnya belepotan oleh cat warna-warni. Dan cat warna biru menggores,
melintang di pipinya.
Aku memperhatikannya. Anak laki-laki itu
begitu sibuk dengan lukisannya sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku, atau
aku yang sedang menatapnya. Terlihat serius, bahagia, bebas, dan sedikit rasa
bangga. Entah mendapat keberanian dari mana, aku yang tidak dekat dengan siapa
pun dan sulit bergaul, akhirnya dengan pelan menghampirinya.
Mungkin akhirnya ia menyadari
keberadaanku, karenanya ia menoleh tepat ketika aku sudah berdiri di sampingnya.
Kami berpandangan. Saling diam, cukup lama. Sampai akhirnya ia berdiri dari
kursi kecilnya, lalu mengulurkan tangan kepadaku.
“Choi Minho,” katanya, menyebut nama
diri, sambil tersenyum begitu ramah.
“Lee Taemin..”
Dan hari itu, aku menjabat tangan
seorang anak laki-laki yang baru kutemui untuk pertama kalinya.
Kedua matanya besar, dan indah. Aku menyukainya,
sehingga menjadi sangat sulit bagiku untuk memalingkan wajah saat mata kami
bertemu.
Ia berdeham, “Apa yang kau lakukan di
sini, Taemin?” lalu duduk kembali.
Ia menatapku, dan menunggu jawaban.
“Aku hanya ingin mencari udara segar,
jadi, kupikir sungai Gloomy adalah tempat yang tepat. Angin di sini sangat
lembut.” jawabku, berjalan sedikit ke sampingnya, dan kupandangi lukisan hampir
jadi di kanvas Minho dengan takjub.
“Kau benar-benar pelukis!” ujarku.
“Lukisanmu sangat indah, Minho. Apa ini sungai Gloomy, dan kota ini ketika
mati?”
Ia terkekeh. “Tapi aku belum
menyelesaikannya, aku belum menemukan objek yang cepat. Aku tidak mungkin
melukis kota mati seperti ini, aku menyukai keindahan.”
“Begitu..” gumamku. “Mungkin benar,
terlalu suram bila kau hanya mengambil sudut sungai ini dan bangunan di sana.”
Aku mengedikkan daguku, merajuk pada kastil megah yang berada tidak jauh dari Gloomy river.
“Benar..” ia tersenyum. “Sepertinya kau
paham sekali dengan lukisan, apa kau juga bisa melukis?”
“Tidak,” aku terkekeh. “Aku mengandalkan
perasaanku untuk menilai sebuah seni, aku tidak bisa melukis.”
“Aku bisa mengajarimu!” katanya
tiba-tiba, begitu bersemangat.
“Tidak, Minho, itu akan memakan waktu
yang sangat lama.”
Sedetik kemudian, kami sama-sama
tertawa.
“Eumm.. Minho, apa kita bisa bertemu
lagi?”
“Tentu saja. Berapa umurmu, Taemin?”
“8 tahun, tapi tahun depan, tepatnya
juli nanti.. aku akan berumur 9 tahun. Ada apa?”
“Tidak. Aku hanya ingin memberikan
lukisan ini padamu saat ulang tahunmu nanti. Aku sudah menemukan objek-ku yang
sebenarnya.”
Kupastikan Minho sudah benar-benar
tidur, sebelum aku kemudian beranjak berdiri dari kursiku dengan pelan dan
berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke sungai Gloomy yang suram
seperti biasanya. Betapa kalimat Minho padaku tadi telah membuat perasaanku
melayang, menjauh dari tanah, terbang ke negeri antah berantah yang penuh akan
peri-peri kecil yang manis. Dan kurcaci. Aku terkekeh.
Hari sudah beranjak malam. Langit tidak
lagi terlihat berwarna oranye, kecuali di langit barat, yang membuat jembatan
sungai Gloomy menjadi seperti siluet yang muram. Seseorang masih berdiri di
sana, dan sendirian.
Aku menegakkan tubuhku dan
memperhatikannya lekat-lekat. Ia benar-benar sendirian, tidak bersama siapa
pun. Laki-laki cantik itu.. dan di mana kekasihnya?
Ia terlihat rapuh.. seperti pohon lapuk;
mati.
Kemudian aku berbalik dan melihat Minho
yang terlelap. Aku tersenyum, namun air mataku mengalir begitu saja di pipi dan
aku menyadari jika aku menangis. Lagi.
“Minho, jangan pergi. Kau akan tetap di
sini, kan? Di sisiku, kan? Aku takut.. aku sangat takut jika aku sendirian.
Mungkin, aku akan terlihat seperti jembatan dan sungai Gloomy; suram, sepi,
hampa.. mati. Aku tidak mau.”
Kujatuhkan diriku di lantai dan
bersimpuh.. menangis sepanjang malam.
TBC
Kamis, 14 Maret 2013
Fanfic | 2MIN | TIME Chapter 1
Title : TIME
Author : Frasa Rose
Cast : tumin
Genre : Life-SAD, Romance, Fantasy
Cuap-cuap Frasa : ada beberapa hal nih yang mau saya kasih tahu. Meskipun saya bilang, ada genre fantasy di cerita ini, yang saya maksudkan adalah semacam ‘keajaiban’. Jadi bukan seperti cerita-cerita fantasy pada umumnya.
Thang yu ^O^
>>
Taemin menyesap kopinya perlahan, sambil duduk diam di depan meja kerjanya yang menghadap ke halaman samping rumahnya yang banyak ditumbuhi tanaman bunga, ia tidak memiliki rencana yang menyenangkan untuk dilakukan hari ini. Seingatnya, sejak ia duduk di tempat itu sampai kini cangkir kopinya telah habis, ia benar-benar hanya duduk melamun sambil menopang dagu. Hal itu sampai-sampai membuatnya lupa akan waktu yang terus berjalan, sementara ia berhenti, dan Taemin baru ingat jika nanti sore ia memiliki janji dengan seseorang.
Ia mendesah. Diletakkannya cangkir yang sudah kosong itu di meja, di dekat buku-buku yang habis ia baca semalam. Taemin mendorong kursinya ke belakang, lalu bergegas bangkit sebelum rasa enggan mendahuluinya. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 9 pagi, berarti ia harus cepat-cepat pergi ke kafe tempatnya berkerja sebelum ia benar-benar akan dicerca habis-habisan oleh atasannya yang sangat menyebalkan. Sebenarnya ia merasa bosan; bekerja di kafe itu sama sekali tidak menyenangkan. Taemin sering berpikir untuk berhenti dari pekerjaan itu dan mencari peluang yang lain. Akan tetapi, hal itu juga mustahil. Ia tidak pandai dalam pekerjaan apa pun kecuali sebagai Novelis, namun sejak satu tahun yang lalu, dunia tempat ia merealisasikan imajinasnya itu berhenti tanpa terduga.
Di kepalanya saat ini, mungkin cerita seperti drama dan akan berakhir bahagia itu sudah tidak ada. Hilang begitu saja. Pernah suatu kali Taemin mencoba kembali ke dunia yang sudah digelutinya selama lima tahun itu, tetapi hasilnya justru lebih buruk dari pada tulisan pertamanya. Ia sama sekali tidak menemukan dirinya di ratusan deret kalimat yang ditulis di atas kertas olehnya sendiri, cerita itu kosong. Dan Taemin sangat membenci hal itu. Lalu akhirnya, ia memilih untuk benar-benar berhenti.
Taemin memijat tengkuknya ketika di sana mendadak terasa kaku. Ia hampir tidak bisa tidur semalam, dan entah, tetapi pagi harinya ia mendapati dirinya tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Tempat tidurnya belum dibenahi, selimut dan sprei musim seminya masih nampak kusut dan berserakan. Taemin berdecak sebal, mungkin benar kata ibunya; ia tidak akan pernah bisa hidup mandiri seperti yang diharapkannya, jika membersihkan tempat tidur saja ia selalu berberat hati. Lalu sambil melipat selimut yang sejujurnya Taemin lupa sejak kapan disimpan di dalam lemari sehingga berbau apak seperti ini, ia melirik kalender di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.
Tepat hari ke dua di musim semi; Taemin tersenyum. Rasanya ia tidak sabar, sepulangnya dari kafe nanti, ia akan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan orang itu. Laki-laki itu, yang menjanjikannya waktu sebagai Sahaya.
“.. Kita akan benar-benar bertemu rupanya.”
>>
Seperti kau menyanyikan lagu itu, aku percaya keajaiban
Dapatkah kita kembali ke dalam kenangan itu?
Bisakah kita hidup di saat-saat itu saja? Karena pada kenyataannya aku benar-benar takut
Aku tidak ingin sendirian..
>>
Song Jyeon mengamati pemuda itu dari kejauhan; matanya yang hangat, senyumnya yang manis namun sedikit tertutupi raut kosong yang kerap ia dapati dari diri orang itu, dan ia menyadari bahwa ia tidak sanggup mengalihkan pandangan. Taemin adalah temannya bekerja di kafe tempat ia bekerja paruh waktu, dan sejak pertama, sejujurnya Jyeon sangat tertarik dengan pribadi dari pemuda kurus itu. Lee Taemin, nama yang bagus ‘kan?
Ia terkekeh pelan, mungkin ia benar-benar menyukai pemuda itu. Diletakkannnya di atas meja bekal makan siangnya sambil menunggu Taemin menyelesaikan pekerjaannya, setiap hari selalu seperti ini, dan Jyeon sama sekali tidak pernah merasa bosan. Justru semakin hari, dadanya semakin sesak saat Taemin dan ia sedang duduk berdua untuk menikmati makan siang masing-masing.
Ia dan Taemin terpaut jarak 2 tahun, namun begitu, pribadi mereka benar-benar jauh berbeda. Jyeon sendiri menyadarinya, ia terlihat begitu kekanakan dibanding Taemin yang dewasa. Ia bahkan selalu membuat repot pemuda itu karena tingkahnya yang bodoh. Jyeon menopang dagunya sambil terus mengamati Taemin, untunglah ia mendapat jam kerja pagi hari, karena ia mengambil jam sore untuk kuliahnya, jadi ia selalu bisa bersama dengan Taemin seperti ini.
Jyeon memejamkan matanya sejenak, ia membayangkan, bagaimana jika Taemin dan dirinya sedang berdua saja saat ini? Lalu, bagaimana jika tiba-tiba Taemin mencium dan memeluknya? Ah! Ia mungkin akan mati saat itu juga!
“Ada apa, Jyeon?”
“Eh?” kedua mata gadis itu mengerjap; pipinya langsung merona saat mendapati wajah Taemin yang dekat dengan wajahnya saat ia membuka mata. “ti-tidak..”
“Wajahmu memerah, Jyeonnie. Apa kau sakit?” Taemin meletakkan nampannya di samping bekal Jyeon, ia mengamati gadis itu.
“Ti-tidak, Oppa. Aku hanya.. ah, di sini panas sekali. Makanya mukaku jadi merah seperti ini.”
Taemin memandangi Song Jyeon dengan bingung, sesaat kemudian, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Padahal baru memasuki musim semi..” gumamnya.
“Hehehe..”
>>
Taemin membuka pintu kafe di hadapnnya dan bergegas keluar. Di pinggir jalan di depan kafe, sambil menunggu kakaknya yang akan menjemput, Jyeon berdiri gelisah dan sesekali melirik cemas ke seberang jalan. Taemin yang mengamatinya hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia heran dengan gadis itu.
“Kau sendiri kenapa tidak memberitahuku jika kuliahmu masuk lebih awal? Aku ‘kan bisa mengingatkanmu tadi?” ujarnya setelah berdiri di samping gadis itu.
Jyeon melirik jam tangannya, jemari-jemari lentiknya saling meremas dengan gelisah. “Aku sendiri juga lupa, Oppa.” Sahutnya agak terburu.
“Apa perlu kuantar saja?”
Pertanyaan itu langsung membuat Jyeon cepat-cepat mengalihkan pandangnya kepada Taemin, “Tidak, Oppa, aku tadi sudah banyak merepotkanmu. Tidak lagi.” Jawabnya.
“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan.”
Jyeon menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak, tapi terima kasih.” Gadis itu tersenyum. “Lebih baik kau pulang, Oppa. Unni bilang, dia akan tiba sebentar lagi.”
“Apa tidak apa-apa?” tanya Taemin. Ia tidak akan tega bila harus meninggalkan gadis itu sendirian, meski pun sore hari, tetapi tetap saja itu bukan jaminan bahwa gadis itu akan ‘baik-baik’ saja. Lagi pula, bukankah akan nampak lebih baik jika ia mengantar gadis itu ke kampusnya dulu sebelum ia pulang?
“Oppa, tidak apa-apa. Tidak akan ada yang berani menganggu Song Jyeon, hehe.. atau mereka akan kuhajar dengan jurus karate-ku.”
Taemin terkekeh. “Ya sudah, aku pulang dulu, Jyeonnie. Annyeong!”
“Nde! Annyeong, Taemin Oppa!”
>>
Jam di dinding kamar Taemin sudah menunjukkan pukul 4 sore, Taemin yang baru selesai mandi dan masih dalam balutan handuknya duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menatap pada jarum yang terus berputar itu, dan tidak sanggup menahan gejolak yang hebat di dadanya. Napasnya mulai sesak, atau mungkin udara di sekitarnya yang kian menipis.
Taemin menghembuskan napasnya, merasa tidak mampu menahan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya, ia hampir tidak bisa bernapas. Pertama kalinya di hari itu, persis seperti hari ini, ia dan laki-laki itu bertemu. Dan, bisakah ia berbohong bahwa nyatanya pemuda itu adalah cinta pertamanya? Atau, haruskah ia diam dan menyembunyikan perasaannya saja? Mungkin jika begitu, ia tidak akan pernah merasakan sakitnya kehilangan.
Taemin menjulurkan tangannya ke atas meja nakas di sampingnya dan maraih kalender yang berada di sana. Mengusap permukaannya sejenak, dan Taemin merasa janggal dengan angka tahun 2009 yang tercetak tebal di atas semua tanggal pada bulan ini. Berwarna merah. Ia mendesah, sejak kapan ia membenci warna itu? Warna merah selalu membuat suasana hatinya memburuk.
Dan setelah meletakkan kembali kalender itu ke tempat semula, Taemin bergegas bangkit dan berjalan ke lemari pakaiannya.
Berpura-puralah dengan baik. Pakai topengmu dan lakukan sandiwara ini dengan sempurna. Hari ini adalah hari itu, saat kau dan dia bahkan belum tahu nama masing-masing.. semua akan berjalan sesuai alur.. seperti angin musim semi. Dan jangan berdebar untuknya!
>>
Taemin membenahi poninya yang berantakan. Angin yang berhembus membuat acak rambutnya sampai beberapa helai jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ia memandang ke sekelilingnya yang banyak berjajar pepohonan semi, ah, Taemin selalu menyukai musim ini. Ketika angin kembali menerpa wajahnya dengan lembut, seperti belaian tipis, ia memejamkan mata. Dihirupnya udara yang wangi di tempat itu dalam-dalam.
Lalu tepat ketika ia membuka mata, Taemin melihat orang itu. Tatapan mereka bertemu, dan dunia seakan berhenti. Taemin menyadari jika ia tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya sama sekali tidak berkedip memandangi pemuda yang berdiri tidak jauh darinya itu, yang mengarahkan kameranya tepat ke arahnya. Apa pemuda itu diam-diam telah mengambil gambarnya?
Taemin melihat pemuda itu cepat-cepat menyembunyikan kamera miliknya ke belakang tubuh, ia tersenyum kikuk, kepada Taemin. Lalu tanpa terduga, laki-laki jangkung dan berwajah tampan itu berjalan canggung ke arah tempatnya berdiri.
“Maaf.. aku sudah lancang mengambil gambarmu.” Ujarnya begitu tiba di hadapan Taemin.
Taemin tersenyum. “Oh! Tidak apa-apa.. Aku mungkin terlihat buruk untuk menjadi objekmu.” Guraunya, mengusap tengkuknya sambil terkekeh.
“Tidak, kau.. kau sangat cantik.”
“Tapi aku bukan perempuan..”
Taemin dan pemuda itu berpandangan cukup lama. Keduanya saling melempar senyuman, lalu tatkala pamuda itu mengulurkan tangannya, Taemin lekas menyambutnya.
“Aku Choi Minho.” Kata pemuda itu memperkenalkan diri.
“Taemin. Namaku Lee Taemin.”
".. Seseorang pernah memberitahuku; waktu yang berlari itu pun bisa berhenti. Bahwa waktu yang sulit kau genggam itu, suatu saat, mana kala kau percaya pada keajaiban; maka kau akan mampu menjadikannya sahaya-mu."
Di kesunyian malam ini, dendangkanlah laguku sambil usap bayanganku selembut angin tipis
Aku akan tidur di bahumu, menyandarkan lelahku di untai kata-kata manis melalui bibirmu yang kusuka
Lalu saat itu kita hanya berdua, saling memandang mencuri hati; buat aku terpedaya seperti saat yang lama berlalu
.. "Aku seperti tidak memiliki apa pun. Aku kosong; tinggallah di sini, kau membuat hatiku penuh."
Bila musim gugur tiba seperti satu tahun silam; berjanjilah kita akan bertemu kembali
Seperti kejadian lalu, kita akan saling mengenal pada pribadi baru. Aku menyebut namaku. Kau mengucapkan namamu
Kemudian kita saling berjabat tangan dan memandang..
".. Ini hanyalah soal waktu."
Ingatkanlah aku, pada mimpi-mimpi kita yang belum terselesaikan
Ucapkanlah padaku; penantianku ini tidak akan sia-sia
Kita akan benar-benar bertemu, waktu akan kembali memihak. Dan aku masih mencintaimu
Kukatakan, sayang, "Waktu kini ialah sahaya-ku."
TBC
Langganan:
Postingan (Atom)


