Title
: Gloaming Flower
Author
: Frasa Rose
Cast
: tumin
Genre
: Fantasy
Cua-cuap Lucifer : Pertama-tama, saya ingin haturkan
maaf karena terpaksa saya harus nambah daftar hutang *Mesem* Beberapa hari
belakangan, saya jadi bener-bener ketagihan dengan cerita fantasy khususnya
dari novel terjemahan *Mesem lagi*
kedua kalinya, saya haturkan, terima kasih, dan selamat membaca ^^
kedua kalinya, saya haturkan, terima kasih, dan selamat membaca ^^
>>
<<
Bayangkan sebuah tempat, di mana
sungainya mengalir sebening kaca, tidak beriak.. begitu tenang. Tidak bersuara,
seakan bisu. Lalu melintang sebuah jembatan, besar, dan panjang. Yang begitu
tinggi, menjulang ke atas tidak sampai menyentuh langit, dan tertutup kabut.
Angin berhembus, akan tetapi tidak membuatnya goyah. Jembatan itu sangat kokoh.
Dan berwarna emas terbias cahaya mentari, berlatarkan senja.. kelam, sunyi;
setidaknya lampu-lampu yang berjajar di sana tidak membuat jembatan itu
terlihat semakin suram.
Orang-orang berjalan dengan tenang, di
tengah musim panas, bersenda gurau. Atau berhenti sejenak dan melihat ke bawah
aliran air. Sungai itu benar-benar jernih. Seperti kaca, yang pada malam hari
akan menunjukkan bayangan bulan yang pucat. Selalu tenang seperti itu. Dan
tidak ada batu-batu menjulang. Permukaannya rata dengan air, bening, sepertinya
seseorang bisa bercermin di sana.
Jika sore hari, saat jembatan itu
berkilau keemasan, mereka akan datang; sepasang kekasih, sama-sama pria, tetapi
salah satunya begitu cantik. Dan anggun, tentu saja. Lalu pria yang selalu
melukis si pria cantik, ia adalah laki-laki yang tampan. Sangat tampan. Apalagi
bila kedua matanya sudah melihat kepada kekasihnya yang berambut pirang dengan
begitu sayang, ia akan terlihat jauh lebih tampan dari yang bisa kugambarkan.
Kedua matanya teduh; aku selalu mengamati mereka, dan aku menyukai cara kedua
orang itu membagi kasih. Seperti tidak akan pernah habis; tidak akan pernah
surut seperti air laut. Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menemui
mereka, sekedar berbasa-basi; atau bertanya, “Bagaimana mungkin kalian bisa
mencintai dengan seindah itu?”
Angin semilir menerpa wajahku, kulihat
laki-laki tampan itu sedang menyiapkan kanvasnya, sementara si pria cantik
berdiri di dekat pembatas sungai menatap ke arah matahari. Membelakangi si pria
tampan. Dan ia sangat ‘indah’ dengan posisi itu. Sebagian tubuhnya menggelap,
samar-samar, kulitnya secemerlang emas tersapu warna oranye, dan terlihat
rapuh. Ah, laki-laki itu sungguh seperti malaikat. Sangat anggun. Tapi
sayangnya ia tidak memiliki sepasang sayap, karena aku yakin, ia bahkan tidak
memerlukan sayap untuk terbang. Melainkan laki-laki itu, kekasihnya itu, yang
terlihat mengaguminya sesaat sebelum menorehkan warna di atas kanvas, ia lah
dua sayap bagi laki-laki cantik itu. Yang akan membawanya terbang ke tempat
yang jauh lebih indah dibanding Neverland.
“Taemin..”
Bisikan lembut itu mencapai telingaku;
hangat. Suara yang kerap membuatku lupa bahwa aku sedang hidup di Dunia yang
semakin tua, bukan di Surga. Aku tidak membutuhkan waktu lagi untuk mengenali
pemilik suara itu, tentu saja aku sudah hafal. Pemiliknya adalah seorang lelaki
tampan, tidak jauh beda dari kekasih si cantik yang berada di jembatan itu, dan
ia adalah kekasihku. Namun, ia sakit. Sakit yang begitu parah. Sakit yang
kubenci karena semakin membuatnya lemah hari demi hari. Dan sakit yang kerap
membuatku menangis.. dalam diam, dan tanpa air mata.
Aku memutar badanku dan melihatnya;
terbaring di atas tempat tidur dengan kelambu yang pucat. Setiap hari ia akan
seperti itu, sangat lama, mungkin sepanjang sisa hidupnya ia akan tetap seperti
itu. Aku tersenyum dan mendekatinya. Wajahnya sama pucatnya dengan bocah gadis
yang meninggal tahun lalu karena terkurung di dalam rumahnya di puncak musim
dingin, tanpa selimut. Tanpa api di perapian rumahnya. Sendirian, dan ditemukan
mati oleh orang tuanya dalam keadaan beku seperti es. Meraih kedua tangannya
yang dingin, padahal ini adalah musim panas, setidaknya ia tidak menggigil.
Atau merasakan sakit itu lagi di dadanya dan membuatnya muntah darah.
Kukecup keningnya, “Apa kau ingin tidur?
Biar aku temani..”
“Tidak,” kedua matanya memandangiku.
Lembut, seperti kembali ke 2 tahun yang lalu, saat kedua mata itu terlihat
tegar dan kuat; tidak sayu. Tidak lelah. Dan tidak akan pernah membuatku
menangis.
Aku menggigit bibir bawahku. “Lalu?”
tanyaku.
“Kau ingat lukisan Gloaming Flower yang kuberikan padamu di ulang tahunmu saat kau
berumur 9 tahun?” tangannya yang lemah menggapai wajahku. Memegang ke dua
pipiku.
Aku menungguk. Tentu saja, lukisan itu
kupajang di kamarku dan akan menjadi barang berhargaku selamanya.
“Aku memang sengaja melukisnya untukmu..”
ia melanjutnya. Monoton, tidak ada kekuatan lagi baginya untuk bicara, pasti
sangat sulit. Aku menelan ludah.
“Aku tahu, ada tulisan namaku di sana..
kau bilang, kau menyukaiku.” Kataku.
Ia tersenyum. “Kau melihatnya?”
“Awalnya kupikir itu riak air sungai
Gloomy, tetapi ternyata tidak.” Aku menyingkirkan kedua tangannya dari pipiku,
lalu membekapnya di dada. “Kau bisa menyembunyikan itu dengan baik, tetapi itu
tidak cukup. Lain kali, kau harus lebih pintar, dan menjadi handal.” Tentu saja... lain kali..
“Kau tahu apa yang kulukis di sana?”
“Gloaming
Flower dan Gloomy River,” jawabku
sekenanya; aku memikirkan lukisan itu kembali. Yang kudapati adalah; jembatan
sungai Gloomy, tampak suram seperti namanya, kastil yang tinggi dan ujungnya
tersembunyi di balik mendung. Pemandangan senja, langit yang mulai menghitam,
sepi. Dan air sungai nampak seperti aslinya, jernih.. memantulkan langit, hanya
saja beriak. Dan di sana, tertulis namaku. Begitu indah, tersirat cinta, dan
aku sangat menyayangi lukisan itu melebihi apa pun. Kota Gloaming-Flow terlihat suram dan mati, tetapi ada satu bunga yang
masih merekah dan berwarna keemasan di celah retak tembok sungai. Tumbuh dengan
daun-daun yang layu, tetapi ia masih terlihat cantik; bunga itu hanya bisa
tumbuh di kota ini, karenanya bunga itu dinamai Gloaming Flower oleh penemu pertamanya.
“Kau bercanda,” ia terkekeh. “Kau tahu
aku tidak menyukai bunga.”
Aku memprotes, “Tentu saja kau bisa, kau
melukis itu untukku, dan aku yakin aku sudah memberitahumu bahwa aku sangat
menyukai bunga. Terutama Gloaming Flower.”
“Bukan.. itu bukan bunga yang disukai
oleh Lee Taemin.” Ia meletakkan kembali tangannya di wajahku, membelaiku
lembut. menyentuh ujung hidungku. “Itu adalah gambar Si Penyuka Gloaming Flower.”
“Itu.. aku?” tanyaku takjub. Bahkan
sejujurnya, ketika memandang lukisannya, aku selalu berandai, atau berharap,
jika aku adalah bunga di dalam lukisan itu; yang bersinar, di sekitar banyak
hal di dunia ini yang mati.
“Benar. Karena kau bungaku.. Gloaming Flowerku yang berharga.”
>>
<<
Ia terlelap di sampingku. Kedua matanya
terpejam rapat, terlihat damai, lalu aku mencium keningnya sebelum merebahkan
kepalaku di sampingnya. Sambil menggenggam tangannya; jemarinya semakin kurus.
Aku ingat pertama kali saat melihatnya, seorang bocah lelaki yang sering
kutemui duduk dengan kanvasnya di jembatan sungai Gloomy. Saat itu aku baru
pulang dari sekolahku, berada di dalam mobil membuatku pengap; aku meminta supirku
untuk menepikan mobil di jembatang Gloomy
river, sedikit memaksanya, lalu akhirnya ia menurut. Aku turun dari
mobilku, dan berjalan mendekati pembatas sungai. Terdengar pekikan melarang
dari supirku, tuan Park yang saat itu masih terlihat muda, aku hanya berbalik
dan memandangnya tajam. Ia diam.
Aku menyentuh pembatas sungai yang
dingin di tanganku. Memejamkan mata, sambil menghirup aroma musim gugur yang
terbawa angin. Kueratkan palto yang kupakai, lalu membuka mata, dan saat itulah
ekor mataku melihatnya. Di sebelah kiriku, jaraknya cukup jauh dari aku
berdiri. Aku menoleh, ia benar-benar di sana. Duduk bersama kanvas dan
pakainnya belepotan oleh cat warna-warni. Dan cat warna biru menggores,
melintang di pipinya.
Aku memperhatikannya. Anak laki-laki itu
begitu sibuk dengan lukisannya sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku, atau
aku yang sedang menatapnya. Terlihat serius, bahagia, bebas, dan sedikit rasa
bangga. Entah mendapat keberanian dari mana, aku yang tidak dekat dengan siapa
pun dan sulit bergaul, akhirnya dengan pelan menghampirinya.
Mungkin akhirnya ia menyadari
keberadaanku, karenanya ia menoleh tepat ketika aku sudah berdiri di sampingnya.
Kami berpandangan. Saling diam, cukup lama. Sampai akhirnya ia berdiri dari
kursi kecilnya, lalu mengulurkan tangan kepadaku.
“Choi Minho,” katanya, menyebut nama
diri, sambil tersenyum begitu ramah.
“Lee Taemin..”
Dan hari itu, aku menjabat tangan
seorang anak laki-laki yang baru kutemui untuk pertama kalinya.
Kedua matanya besar, dan indah. Aku menyukainya,
sehingga menjadi sangat sulit bagiku untuk memalingkan wajah saat mata kami
bertemu.
Ia berdeham, “Apa yang kau lakukan di
sini, Taemin?” lalu duduk kembali.
Ia menatapku, dan menunggu jawaban.
“Aku hanya ingin mencari udara segar,
jadi, kupikir sungai Gloomy adalah tempat yang tepat. Angin di sini sangat
lembut.” jawabku, berjalan sedikit ke sampingnya, dan kupandangi lukisan hampir
jadi di kanvas Minho dengan takjub.
“Kau benar-benar pelukis!” ujarku.
“Lukisanmu sangat indah, Minho. Apa ini sungai Gloomy, dan kota ini ketika
mati?”
Ia terkekeh. “Tapi aku belum
menyelesaikannya, aku belum menemukan objek yang cepat. Aku tidak mungkin
melukis kota mati seperti ini, aku menyukai keindahan.”
“Begitu..” gumamku. “Mungkin benar,
terlalu suram bila kau hanya mengambil sudut sungai ini dan bangunan di sana.”
Aku mengedikkan daguku, merajuk pada kastil megah yang berada tidak jauh dari Gloomy river.
“Benar..” ia tersenyum. “Sepertinya kau
paham sekali dengan lukisan, apa kau juga bisa melukis?”
“Tidak,” aku terkekeh. “Aku mengandalkan
perasaanku untuk menilai sebuah seni, aku tidak bisa melukis.”
“Aku bisa mengajarimu!” katanya
tiba-tiba, begitu bersemangat.
“Tidak, Minho, itu akan memakan waktu
yang sangat lama.”
Sedetik kemudian, kami sama-sama
tertawa.
“Eumm.. Minho, apa kita bisa bertemu
lagi?”
“Tentu saja. Berapa umurmu, Taemin?”
“8 tahun, tapi tahun depan, tepatnya
juli nanti.. aku akan berumur 9 tahun. Ada apa?”
“Tidak. Aku hanya ingin memberikan
lukisan ini padamu saat ulang tahunmu nanti. Aku sudah menemukan objek-ku yang
sebenarnya.”
Kupastikan Minho sudah benar-benar
tidur, sebelum aku kemudian beranjak berdiri dari kursiku dengan pelan dan
berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke sungai Gloomy yang suram
seperti biasanya. Betapa kalimat Minho padaku tadi telah membuat perasaanku
melayang, menjauh dari tanah, terbang ke negeri antah berantah yang penuh akan
peri-peri kecil yang manis. Dan kurcaci. Aku terkekeh.
Hari sudah beranjak malam. Langit tidak
lagi terlihat berwarna oranye, kecuali di langit barat, yang membuat jembatan
sungai Gloomy menjadi seperti siluet yang muram. Seseorang masih berdiri di
sana, dan sendirian.
Aku menegakkan tubuhku dan
memperhatikannya lekat-lekat. Ia benar-benar sendirian, tidak bersama siapa
pun. Laki-laki cantik itu.. dan di mana kekasihnya?
Ia terlihat rapuh.. seperti pohon lapuk;
mati.
Kemudian aku berbalik dan melihat Minho
yang terlelap. Aku tersenyum, namun air mataku mengalir begitu saja di pipi dan
aku menyadari jika aku menangis. Lagi.
“Minho, jangan pergi. Kau akan tetap di
sini, kan? Di sisiku, kan? Aku takut.. aku sangat takut jika aku sendirian.
Mungkin, aku akan terlihat seperti jembatan dan sungai Gloomy; suram, sepi,
hampa.. mati. Aku tidak mau.”
Kujatuhkan diriku di lantai dan
bersimpuh.. menangis sepanjang malam.
TBC

