Jumat, 15 Maret 2013

Fanfic : 2MIN | Gloaming Flower | Chapter 1



Title : Gloaming Flower

Author : Frasa Rose

Cast : tumin

Genre : Fantasy

Cua-cuap Lucifer : Pertama-tama, saya ingin haturkan maaf karena terpaksa saya harus nambah daftar hutang *Mesem* Beberapa hari belakangan, saya jadi bener-bener ketagihan dengan cerita fantasy khususnya dari novel terjemahan *Mesem lagi*

kedua kalinya, saya haturkan, terima kasih, dan selamat membaca ^^



>> 



<< 



Bayangkan sebuah tempat, di mana sungainya mengalir sebening kaca, tidak beriak.. begitu tenang. Tidak bersuara, seakan bisu. Lalu melintang sebuah jembatan, besar, dan panjang. Yang begitu tinggi, menjulang ke atas tidak sampai menyentuh langit, dan tertutup kabut. Angin berhembus, akan tetapi tidak membuatnya goyah. Jembatan itu sangat kokoh. Dan berwarna emas terbias cahaya mentari, berlatarkan senja.. kelam, sunyi; setidaknya lampu-lampu yang berjajar di sana tidak membuat jembatan itu terlihat semakin suram.

Orang-orang berjalan dengan tenang, di tengah musim panas, bersenda gurau. Atau berhenti sejenak dan melihat ke bawah aliran air. Sungai itu benar-benar jernih. Seperti kaca, yang pada malam hari akan menunjukkan bayangan bulan yang pucat. Selalu tenang seperti itu. Dan tidak ada batu-batu menjulang. Permukaannya rata dengan air, bening, sepertinya seseorang bisa bercermin di sana.

Jika sore hari, saat jembatan itu berkilau keemasan, mereka akan datang; sepasang kekasih, sama-sama pria, tetapi salah satunya begitu cantik. Dan anggun, tentu saja. Lalu pria yang selalu melukis si pria cantik, ia adalah laki-laki yang tampan. Sangat tampan. Apalagi bila kedua matanya sudah melihat kepada kekasihnya yang berambut pirang dengan begitu sayang, ia akan terlihat jauh lebih tampan dari yang bisa kugambarkan. Kedua matanya teduh; aku selalu mengamati mereka, dan aku menyukai cara kedua orang itu membagi kasih. Seperti tidak akan pernah habis; tidak akan pernah surut seperti air laut. Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menemui mereka, sekedar berbasa-basi; atau bertanya, “Bagaimana mungkin kalian bisa mencintai dengan seindah itu?”

Angin semilir menerpa wajahku, kulihat laki-laki tampan itu sedang menyiapkan kanvasnya, sementara si pria cantik berdiri di dekat pembatas sungai menatap ke arah matahari. Membelakangi si pria tampan. Dan ia sangat ‘indah’ dengan posisi itu. Sebagian tubuhnya menggelap, samar-samar, kulitnya secemerlang emas tersapu warna oranye, dan terlihat rapuh. Ah, laki-laki itu sungguh seperti malaikat. Sangat anggun. Tapi sayangnya ia tidak memiliki sepasang sayap, karena aku yakin, ia bahkan tidak memerlukan sayap untuk terbang. Melainkan laki-laki itu, kekasihnya itu, yang terlihat mengaguminya sesaat sebelum menorehkan warna di atas kanvas, ia lah dua sayap bagi laki-laki cantik itu. Yang akan membawanya terbang ke tempat yang jauh lebih indah dibanding Neverland.

“Taemin..”

Bisikan lembut itu mencapai telingaku; hangat. Suara yang kerap membuatku lupa bahwa aku sedang hidup di Dunia yang semakin tua, bukan di Surga. Aku tidak membutuhkan waktu lagi untuk mengenali pemilik suara itu, tentu saja aku sudah hafal. Pemiliknya adalah seorang lelaki tampan, tidak jauh beda dari kekasih si cantik yang berada di jembatan itu, dan ia adalah kekasihku. Namun, ia sakit. Sakit yang begitu parah. Sakit yang kubenci karena semakin membuatnya lemah hari demi hari. Dan sakit yang kerap membuatku menangis.. dalam diam, dan tanpa air mata.

Aku memutar badanku dan melihatnya; terbaring di atas tempat tidur dengan kelambu yang pucat. Setiap hari ia akan seperti itu, sangat lama, mungkin sepanjang sisa hidupnya ia akan tetap seperti itu. Aku tersenyum dan mendekatinya. Wajahnya sama pucatnya dengan bocah gadis yang meninggal tahun lalu karena terkurung di dalam rumahnya di puncak musim dingin, tanpa selimut. Tanpa api di perapian rumahnya. Sendirian, dan ditemukan mati oleh orang tuanya dalam keadaan beku seperti es. Meraih kedua tangannya yang dingin, padahal ini adalah musim panas, setidaknya ia tidak menggigil. Atau merasakan sakit itu lagi di dadanya dan membuatnya muntah darah.

Kukecup keningnya, “Apa kau ingin tidur? Biar aku temani..”

“Tidak,” kedua matanya memandangiku. Lembut, seperti kembali ke 2 tahun yang lalu, saat kedua mata itu terlihat tegar dan kuat; tidak sayu. Tidak lelah. Dan tidak akan pernah membuatku menangis.

Aku menggigit bibir bawahku. “Lalu?” tanyaku.

“Kau ingat lukisan Gloaming Flower yang kuberikan padamu di ulang tahunmu saat kau berumur 9 tahun?” tangannya yang lemah menggapai wajahku. Memegang ke dua pipiku.

Aku menungguk. Tentu saja, lukisan itu kupajang di kamarku dan akan menjadi barang berhargaku selamanya.

“Aku memang sengaja melukisnya untukmu..” ia melanjutnya. Monoton, tidak ada kekuatan lagi baginya untuk bicara, pasti sangat sulit. Aku menelan ludah.

“Aku tahu, ada tulisan namaku di sana.. kau bilang, kau menyukaiku.” Kataku.

Ia tersenyum. “Kau melihatnya?”

“Awalnya kupikir itu riak air sungai Gloomy, tetapi ternyata tidak.” Aku menyingkirkan kedua tangannya dari pipiku, lalu membekapnya di dada. “Kau bisa menyembunyikan itu dengan baik, tetapi itu tidak cukup. Lain kali, kau harus lebih pintar, dan menjadi handal.” Tentu saja... lain kali..

“Kau tahu apa yang kulukis di sana?”

Gloaming Flower dan Gloomy River,” jawabku sekenanya; aku memikirkan lukisan itu kembali. Yang kudapati adalah; jembatan sungai Gloomy, tampak suram seperti namanya, kastil yang tinggi dan ujungnya tersembunyi di balik mendung. Pemandangan senja, langit yang mulai menghitam, sepi. Dan air sungai nampak seperti aslinya, jernih.. memantulkan langit, hanya saja beriak. Dan di sana, tertulis namaku. Begitu indah, tersirat cinta, dan aku sangat menyayangi lukisan itu melebihi apa pun. Kota Gloaming-Flow terlihat suram dan mati, tetapi ada satu bunga yang masih merekah dan berwarna keemasan di celah retak tembok sungai. Tumbuh dengan daun-daun yang layu, tetapi ia masih terlihat cantik; bunga itu hanya bisa tumbuh di kota ini, karenanya bunga itu dinamai Gloaming Flower oleh penemu pertamanya.

“Kau bercanda,” ia terkekeh. “Kau tahu aku tidak menyukai bunga.”

Aku memprotes, “Tentu saja kau bisa, kau melukis itu untukku, dan aku yakin aku sudah memberitahumu bahwa aku sangat menyukai bunga. Terutama Gloaming Flower.”

“Bukan.. itu bukan bunga yang disukai oleh Lee Taemin.” Ia meletakkan kembali tangannya di wajahku, membelaiku lembut. menyentuh ujung hidungku. “Itu adalah gambar Si Penyuka Gloaming Flower.”

“Itu.. aku?” tanyaku takjub. Bahkan sejujurnya, ketika memandang lukisannya, aku selalu berandai, atau berharap, jika aku adalah bunga di dalam lukisan itu; yang bersinar, di sekitar banyak hal di dunia ini yang mati.

“Benar. Karena kau bungaku.. Gloaming Flowerku yang berharga.”



>> 



<< 



Ia terlelap di sampingku. Kedua matanya terpejam rapat, terlihat damai, lalu aku mencium keningnya sebelum merebahkan kepalaku di sampingnya. Sambil menggenggam tangannya; jemarinya semakin kurus. Aku ingat pertama kali saat melihatnya, seorang bocah lelaki yang sering kutemui duduk dengan kanvasnya di jembatan sungai Gloomy. Saat itu aku baru pulang dari sekolahku, berada di dalam mobil membuatku pengap; aku meminta supirku untuk menepikan mobil di jembatang Gloomy river, sedikit memaksanya, lalu akhirnya ia menurut. Aku turun dari mobilku, dan berjalan mendekati pembatas sungai. Terdengar pekikan melarang dari supirku, tuan Park yang saat itu masih terlihat muda, aku hanya berbalik dan memandangnya tajam. Ia diam.

Aku menyentuh pembatas sungai yang dingin di tanganku. Memejamkan mata, sambil menghirup aroma musim gugur yang terbawa angin. Kueratkan palto yang kupakai, lalu membuka mata, dan saat itulah ekor mataku melihatnya. Di sebelah kiriku, jaraknya cukup jauh dari aku berdiri. Aku menoleh, ia benar-benar di sana. Duduk bersama kanvas dan pakainnya belepotan oleh cat warna-warni. Dan cat warna biru menggores, melintang di pipinya.

Aku memperhatikannya. Anak laki-laki itu begitu sibuk dengan lukisannya sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku, atau aku yang sedang menatapnya. Terlihat serius, bahagia, bebas, dan sedikit rasa bangga. Entah mendapat keberanian dari mana, aku yang tidak dekat dengan siapa pun dan sulit bergaul, akhirnya dengan pelan menghampirinya.

Mungkin akhirnya ia menyadari keberadaanku, karenanya ia menoleh tepat ketika aku sudah berdiri di sampingnya. Kami berpandangan. Saling diam, cukup lama. Sampai akhirnya ia berdiri dari kursi kecilnya, lalu mengulurkan tangan kepadaku.

“Choi Minho,” katanya, menyebut nama diri, sambil tersenyum begitu ramah.

“Lee Taemin..”

Dan hari itu, aku menjabat tangan seorang anak laki-laki yang baru kutemui untuk pertama kalinya.

Kedua matanya besar, dan indah. Aku menyukainya, sehingga menjadi sangat sulit bagiku untuk memalingkan wajah saat mata kami bertemu.

Ia berdeham, “Apa yang kau lakukan di sini, Taemin?” lalu duduk kembali.

Ia menatapku, dan menunggu jawaban.

“Aku hanya ingin mencari udara segar, jadi, kupikir sungai Gloomy adalah tempat yang tepat. Angin di sini sangat lembut.” jawabku, berjalan sedikit ke sampingnya, dan kupandangi lukisan hampir jadi di kanvas Minho dengan takjub.

“Kau benar-benar pelukis!” ujarku. “Lukisanmu sangat indah, Minho. Apa ini sungai Gloomy, dan kota ini ketika mati?”

Ia terkekeh. “Tapi aku belum menyelesaikannya, aku belum menemukan objek yang cepat. Aku tidak mungkin melukis kota mati seperti ini, aku menyukai keindahan.”

“Begitu..” gumamku. “Mungkin benar, terlalu suram bila kau hanya mengambil sudut sungai ini dan bangunan di sana.” Aku mengedikkan daguku, merajuk pada kastil megah yang berada tidak jauh dari Gloomy river.

“Benar..” ia tersenyum. “Sepertinya kau paham sekali dengan lukisan, apa kau juga bisa melukis?”

“Tidak,” aku terkekeh. “Aku mengandalkan perasaanku untuk menilai sebuah seni, aku tidak bisa melukis.”

“Aku bisa mengajarimu!” katanya tiba-tiba, begitu bersemangat.

“Tidak, Minho, itu akan memakan waktu yang sangat lama.”

Sedetik kemudian, kami sama-sama tertawa.

“Eumm.. Minho, apa kita bisa bertemu lagi?”

“Tentu saja. Berapa umurmu, Taemin?”

“8 tahun, tapi tahun depan, tepatnya juli nanti.. aku akan berumur 9 tahun. Ada apa?”

“Tidak. Aku hanya ingin memberikan lukisan ini padamu saat ulang tahunmu nanti. Aku sudah menemukan objek-ku yang sebenarnya.”

Kupastikan Minho sudah benar-benar tidur, sebelum aku kemudian beranjak berdiri dari kursiku dengan pelan dan berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke sungai Gloomy yang suram seperti biasanya. Betapa kalimat Minho padaku tadi telah membuat perasaanku melayang, menjauh dari tanah, terbang ke negeri antah berantah yang penuh akan peri-peri kecil yang manis. Dan kurcaci. Aku terkekeh.

Hari sudah beranjak malam. Langit tidak lagi terlihat berwarna oranye, kecuali di langit barat, yang membuat jembatan sungai Gloomy menjadi seperti siluet yang muram. Seseorang masih berdiri di sana, dan sendirian.

Aku menegakkan tubuhku dan memperhatikannya lekat-lekat. Ia benar-benar sendirian, tidak bersama siapa pun. Laki-laki cantik itu.. dan di mana kekasihnya?

Ia terlihat rapuh.. seperti pohon lapuk; mati.

Kemudian aku berbalik dan melihat Minho yang terlelap. Aku tersenyum, namun air mataku mengalir begitu saja di pipi dan aku menyadari jika aku menangis. Lagi.

“Minho, jangan pergi. Kau akan tetap di sini, kan? Di sisiku, kan? Aku takut.. aku sangat takut jika aku sendirian. Mungkin, aku akan terlihat seperti jembatan dan sungai Gloomy; suram, sepi, hampa.. mati. Aku tidak mau.”

Kujatuhkan diriku di lantai dan bersimpuh.. menangis sepanjang malam.










TBC

2 komentar:

  1. Y.Y otak otak kaya saia gak cukup 1X baca epep inie__ tp macih gak sanggup nemu maksud critanya,,,huwaaa!! kriting kriting dah nie kpala(?)

    BalasHapus
  2. Mau dicatok (?) biar lurus? :)

    BalasHapus