Kamis, 14 Maret 2013

Fanfic | 2MIN | TIME Chapter 1







Title : TIME

Author : Frasa Rose

Cast : tumin

Genre : Life-SAD, Romance, Fantasy


Cuap-cuap Frasa : ada beberapa hal nih yang mau saya kasih tahu. Meskipun saya bilang, ada genre fantasy di cerita ini, yang saya maksudkan adalah semacam ‘keajaiban’. Jadi bukan seperti cerita-cerita fantasy pada umumnya.



Thang yu ^O^


>> 


Taemin menyesap kopinya perlahan, sambil duduk diam di depan meja kerjanya yang menghadap ke halaman samping rumahnya yang banyak ditumbuhi tanaman bunga, ia tidak memiliki rencana yang menyenangkan untuk dilakukan hari ini. Seingatnya, sejak ia duduk di tempat itu sampai kini cangkir kopinya telah habis, ia benar-benar hanya duduk melamun sambil menopang dagu. Hal itu sampai-sampai membuatnya lupa akan waktu yang terus berjalan, sementara ia berhenti, dan Taemin baru ingat jika nanti sore ia memiliki janji dengan seseorang.

Ia mendesah. Diletakkannya cangkir yang sudah kosong itu di meja, di dekat buku-buku yang habis ia baca semalam. Taemin mendorong kursinya ke belakang, lalu bergegas bangkit sebelum rasa enggan mendahuluinya. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 9 pagi, berarti ia harus cepat-cepat pergi ke kafe tempatnya berkerja sebelum ia benar-benar akan dicerca habis-habisan oleh atasannya yang sangat menyebalkan. Sebenarnya ia merasa bosan; bekerja di kafe itu sama sekali tidak menyenangkan. Taemin sering berpikir untuk berhenti dari pekerjaan itu dan mencari peluang yang lain. Akan tetapi, hal itu juga mustahil. Ia tidak pandai dalam pekerjaan apa pun kecuali sebagai Novelis, namun sejak satu tahun yang lalu, dunia tempat ia merealisasikan imajinasnya itu berhenti tanpa terduga.

Di kepalanya saat ini, mungkin cerita seperti drama dan akan berakhir bahagia itu sudah tidak ada. Hilang begitu saja. Pernah suatu kali Taemin mencoba kembali ke dunia yang sudah digelutinya selama lima tahun itu, tetapi hasilnya justru lebih buruk dari pada tulisan pertamanya. Ia sama sekali tidak menemukan dirinya di ratusan deret kalimat yang ditulis di atas kertas olehnya sendiri, cerita itu kosong. Dan Taemin sangat membenci hal itu. Lalu akhirnya, ia memilih untuk benar-benar berhenti.

Taemin memijat tengkuknya ketika di sana mendadak terasa kaku. Ia hampir tidak bisa tidur semalam, dan entah, tetapi pagi harinya ia mendapati dirinya tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Tempat tidurnya belum dibenahi, selimut dan sprei musim seminya masih nampak kusut dan berserakan. Taemin berdecak sebal, mungkin benar kata ibunya; ia tidak akan pernah bisa hidup mandiri seperti yang diharapkannya, jika membersihkan tempat tidur saja ia selalu berberat hati. Lalu sambil melipat selimut yang sejujurnya Taemin lupa sejak kapan disimpan di dalam lemari sehingga berbau apak seperti ini, ia melirik kalender di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.

Tepat hari ke dua di musim semi; Taemin tersenyum. Rasanya ia tidak sabar, sepulangnya dari kafe nanti, ia akan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan orang itu. Laki-laki itu, yang menjanjikannya waktu sebagai Sahaya.

“.. Kita akan benar-benar bertemu rupanya.”


>>


Seperti kau menyanyikan lagu itu, aku percaya keajaiban

Dapatkah kita kembali ke dalam kenangan itu?

Bisakah kita hidup di saat-saat itu saja? Karena pada kenyataannya aku benar-benar takut

Aku tidak ingin sendirian..


>>



Song Jyeon mengamati pemuda itu dari kejauhan; matanya yang hangat, senyumnya yang manis namun sedikit tertutupi raut kosong yang kerap ia dapati dari diri orang itu, dan ia menyadari bahwa ia tidak sanggup mengalihkan pandangan. Taemin adalah temannya bekerja di kafe tempat ia bekerja paruh waktu, dan sejak pertama, sejujurnya Jyeon sangat tertarik dengan pribadi dari pemuda kurus itu. Lee Taemin, nama yang bagus ‘kan?

Ia terkekeh pelan, mungkin ia benar-benar menyukai pemuda itu. Diletakkannnya di atas meja bekal makan siangnya sambil menunggu Taemin menyelesaikan pekerjaannya, setiap hari selalu seperti ini, dan Jyeon sama sekali tidak pernah merasa bosan. Justru semakin hari, dadanya semakin sesak saat Taemin dan ia sedang duduk berdua untuk menikmati makan siang masing-masing.

Ia dan Taemin terpaut jarak 2 tahun, namun begitu, pribadi mereka benar-benar jauh berbeda. Jyeon sendiri menyadarinya, ia terlihat begitu kekanakan dibanding Taemin yang dewasa. Ia bahkan selalu membuat repot pemuda itu karena tingkahnya yang bodoh. Jyeon menopang dagunya sambil terus mengamati Taemin, untunglah ia mendapat jam kerja pagi hari, karena ia mengambil jam sore untuk kuliahnya, jadi ia selalu bisa bersama dengan Taemin seperti ini.

Jyeon memejamkan matanya sejenak, ia membayangkan, bagaimana jika Taemin dan dirinya sedang berdua saja saat ini? Lalu, bagaimana jika tiba-tiba Taemin mencium dan memeluknya? Ah! Ia mungkin akan mati saat itu juga!

“Ada apa, Jyeon?”

“Eh?” kedua mata gadis itu mengerjap; pipinya langsung merona saat mendapati wajah Taemin yang dekat dengan wajahnya saat ia membuka mata. “ti-tidak..”

“Wajahmu memerah, Jyeonnie. Apa kau sakit?” Taemin meletakkan nampannya di samping bekal Jyeon, ia mengamati gadis itu.

“Ti-tidak, Oppa. Aku hanya.. ah, di sini panas sekali. Makanya mukaku jadi merah seperti ini.”

Taemin memandangi Song Jyeon dengan bingung, sesaat kemudian, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Padahal baru memasuki musim semi..” gumamnya.

“Hehehe..”


>>


Taemin membuka pintu kafe di hadapnnya dan bergegas keluar. Di pinggir jalan di depan kafe, sambil menunggu kakaknya yang akan menjemput, Jyeon berdiri gelisah dan sesekali melirik cemas ke seberang jalan. Taemin yang mengamatinya hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia heran dengan gadis itu.

“Kau sendiri kenapa tidak memberitahuku jika kuliahmu masuk lebih awal? Aku ‘kan bisa mengingatkanmu tadi?” ujarnya setelah berdiri di samping gadis itu.

Jyeon melirik jam tangannya, jemari-jemari lentiknya saling meremas dengan gelisah. “Aku sendiri juga lupa, Oppa.” Sahutnya agak terburu.

“Apa perlu kuantar saja?”

Pertanyaan itu langsung membuat Jyeon cepat-cepat mengalihkan pandangnya kepada Taemin, “Tidak, Oppa, aku tadi sudah banyak merepotkanmu. Tidak lagi.” Jawabnya.

“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan.”

Jyeon menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak, tapi terima kasih.” Gadis itu tersenyum. “Lebih baik kau pulang, Oppa. Unni bilang, dia akan tiba sebentar lagi.”

“Apa tidak apa-apa?” tanya Taemin. Ia tidak akan tega bila harus meninggalkan gadis itu sendirian, meski pun sore hari, tetapi tetap saja itu bukan jaminan bahwa gadis itu akan ‘baik-baik’ saja. Lagi pula, bukankah akan nampak lebih baik jika ia mengantar gadis itu ke kampusnya dulu sebelum ia pulang?

“Oppa, tidak apa-apa. Tidak akan ada yang berani menganggu Song Jyeon, hehe.. atau mereka akan kuhajar dengan jurus karate-ku.”

Taemin terkekeh. “Ya sudah, aku pulang dulu, Jyeonnie. Annyeong!”

“Nde! Annyeong, Taemin Oppa!”


>>


Jam di dinding kamar Taemin sudah menunjukkan pukul 4 sore, Taemin yang baru selesai mandi dan masih dalam balutan handuknya duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menatap pada jarum yang terus berputar itu, dan tidak sanggup menahan gejolak yang hebat di dadanya. Napasnya mulai sesak, atau mungkin udara di sekitarnya yang kian menipis.

Taemin menghembuskan napasnya, merasa tidak mampu menahan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya, ia hampir tidak bisa bernapas. Pertama kalinya di hari itu, persis seperti hari ini, ia dan laki-laki itu bertemu. Dan, bisakah ia berbohong bahwa nyatanya pemuda itu adalah cinta pertamanya? Atau, haruskah ia diam dan menyembunyikan perasaannya saja? Mungkin jika begitu, ia tidak akan pernah merasakan sakitnya kehilangan.

Taemin menjulurkan tangannya ke atas meja nakas di sampingnya dan maraih kalender yang berada di sana. Mengusap permukaannya sejenak, dan Taemin merasa janggal dengan angka tahun 2009 yang tercetak tebal di atas semua tanggal pada bulan ini. Berwarna merah. Ia mendesah, sejak kapan ia membenci warna itu? Warna merah selalu membuat suasana hatinya memburuk.

Dan setelah meletakkan kembali kalender itu ke tempat semula, Taemin bergegas bangkit dan berjalan ke lemari pakaiannya.

Berpura-puralah dengan baik. Pakai topengmu dan lakukan sandiwara ini dengan sempurna. Hari ini adalah hari itu, saat kau dan dia bahkan belum tahu nama masing-masing.. semua akan berjalan sesuai alur.. seperti angin musim semi. Dan jangan berdebar untuknya!


>>


Taemin membenahi poninya yang berantakan. Angin yang berhembus membuat acak rambutnya sampai beberapa helai jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ia memandang ke sekelilingnya yang banyak berjajar pepohonan semi, ah, Taemin selalu menyukai musim ini. Ketika angin kembali menerpa wajahnya dengan lembut, seperti belaian tipis, ia memejamkan mata. Dihirupnya udara yang wangi di tempat itu dalam-dalam.

Lalu tepat ketika ia membuka mata, Taemin melihat orang itu. Tatapan mereka bertemu, dan dunia seakan berhenti. Taemin menyadari jika ia tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya sama sekali tidak berkedip memandangi pemuda yang berdiri tidak jauh darinya itu, yang mengarahkan kameranya tepat ke arahnya. Apa pemuda itu diam-diam telah mengambil gambarnya?

Taemin melihat pemuda itu cepat-cepat menyembunyikan kamera miliknya ke belakang tubuh, ia tersenyum kikuk, kepada Taemin. Lalu tanpa terduga, laki-laki jangkung dan berwajah tampan itu berjalan canggung ke arah tempatnya berdiri.

“Maaf.. aku sudah lancang mengambil gambarmu.” Ujarnya begitu tiba di hadapan Taemin.

Taemin tersenyum. “Oh! Tidak apa-apa.. Aku mungkin terlihat buruk untuk menjadi objekmu.” Guraunya, mengusap tengkuknya sambil terkekeh.

“Tidak, kau.. kau sangat cantik.”

“Tapi aku bukan perempuan..”

Taemin dan pemuda itu berpandangan cukup lama. Keduanya saling melempar senyuman, lalu tatkala pamuda itu mengulurkan tangannya, Taemin lekas menyambutnya.

“Aku Choi Minho.” Kata pemuda itu memperkenalkan diri.

“Taemin. Namaku Lee Taemin.”



".. Seseorang pernah memberitahuku; waktu yang berlari itu pun bisa berhenti. Bahwa waktu yang sulit kau genggam itu, suatu saat, mana kala kau percaya pada keajaiban; maka kau akan mampu menjadikannya sahaya-mu."



Di kesunyian malam ini, dendangkanlah laguku sambil usap bayanganku selembut angin tipis

Aku akan tidur di bahumu, menyandarkan lelahku di untai kata-kata manis melalui bibirmu yang kusuka

Lalu saat itu kita hanya berdua, saling memandang mencuri hati; buat aku terpedaya seperti saat yang lama berlalu

.. "Aku seperti tidak memiliki apa pun. Aku kosong; tinggallah di sini, kau membuat hatiku penuh."


Bila musim gugur tiba seperti satu tahun silam; berjanjilah kita akan bertemu kembali

Seperti kejadian lalu, kita akan saling mengenal pada pribadi baru. Aku menyebut namaku. Kau mengucapkan namamu

Kemudian kita saling berjabat tangan dan memandang..

".. Ini hanyalah soal waktu."


Ingatkanlah aku, pada mimpi-mimpi kita yang belum terselesaikan

Ucapkanlah padaku; penantianku ini tidak akan sia-sia

Kita akan benar-benar bertemu, waktu akan kembali memihak. Dan aku masih mencintaimu

Kukatakan, sayang, "Waktu kini ialah sahaya-ku."







TBC

2 komentar:

  1. Fighting lucifer ^o^
    selanjutnya bkin saia nangis ^^ ingat nangis krn terharu ma epep nie, bkn krn lama nungguin part 2 nya
    note : 2min together forever <3

    BalasHapus
  2. Gomawo uda baca, chingu ^^ *Deepbow bareng 2MIN

    BalasHapus